Sabtu, 01 Desember 2012

Manajemen Pendidikan Jasmani dan olahraga

KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
OLEH : GATOT JARIONO
MAHASISWA PPs. UNJ
PROGRAM DOKTORAL (S3) PENDIDIKAN OLAHRAGA
(Karya sederhana ini semoga bermanfaat bagi pemerhati pendidikan khususnya dalam bidang Pendidikan Jasmani dan Olahraga)
Kata Kunci à definisi istilah Manajemen Pendidikan à Makna pendidikan jasmani à tujuan pendidikan jasmani dan olahraga
A. Pendahuluan
Pendidikan jasmani dan olaraga merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang moral dan akhlaknya serta berpikir positif secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Menurut Husdarta (2009), bahwa pencapaian tujuan tersebut berpangkal pada perencanaan pengalaman gerak yang sesuai dengan karakteristik anak.
Apakah peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mempersiapkan para pewaris bangsa ini untuk mampu bersaing secara sehat dalam persaingan global sekarang ini dan yang akan datang? Apa pula peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya evolusi kehidupan manusia yangcenderung tidak lagi memerlukan perangkat fisik yang utuh untuk menjalankan tugasnya sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, serta penawaran satu alternatif dalam memandang peranan dan fungsi Pendidikan jasmani dan olahraga yang seharusnya dilaksanakan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Indoensia lebih diseriusi dan ditingkatkan.
Istilah pendidikan jasmani yang telah dikenal pada tahun 1950-an di Indonesia, cukup lama menghilang dari wacana, terutama sejak tahun 1960-an, tatkala istilah itu diganti dengan istilah olahraga. Dampak dari perubahan tersebut sangat luas dan mendalam, terutama terhadap struktur dan isi kurikulum di semua jenjang pendidikan sekolah. Kesalahpahaman juga terjadi terhadap makna kedua istilah itu, karena hamper selalu hanya dikaitkan dengan kepentingan pembinaan fisik, seperti tujuan berprestasi atau sebatas pencapaian derajat kebugaran jasmani.
Pendidikan jasmani dan olahraga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik (jasmani) dan olahraga untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional. Penjasor memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seorang yang terpisah kual itas fisik dan mentaInya.
Dalam konsep dasar manajemen pendidikan jasmani dan olahraga, akan di pahami bersama tentang beberapa pengertian istilah, makna pendidikan jasmani dan olahraga, tujuan pendidikan jasmani dan olahraga. Agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penulisan karya yang sangat sederhana ini maka penulis akan membatasi dan membahas istilah penulisan yang terkait dengan konsep dasar manajemen pendidikan jasmani dan olahraga antara lain: (A) definisi istilah sebagai berikut 1) definisi manajemen, 2) definisi pendidikan, 3) definisi manajemen pendidikan, 4) definisi pendidikan jasmani dan olahraga 5) definisi manajemen pendidikan jasmani dan olahraga. (B) Makna pendidikan jasmani dan olahraga antara lain 1) kedudukan pendidikan jasmani dan olahraga, 2) gerak sebagai pokok pendidikan jasmani dan olahraga, 3) gerak sebagai kebutuhan anak, dan (C) tujuan pendidikan jasmani dan olahraga yang secara bersama akan diuraikan berikut ini:

B. Definisi Istilah
1. Arti Manajemen
Kata manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Kata-kata ini digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.
Panggabean (2004) mengemukakan bahwa: “manajemen merupakan suatu proses yang terdiri dari atas fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pemimpin, dan pengendalian kegiatan sumber daya manusia Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Selatan dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan secara efesien”. Selanjutnya  Hasibuan (2006) mengemukakan bahwa: “manajemen sebagai suatu usaha memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia yang berpotensi dalam pencapaian tujuan”. Sumber-sumber tersebut berupa orang (man), uang (money), material (material), peralatan (machine), metode (method), waktu (time) dan prasarana lainnya.
Istilah manajemen telah diartikan oleh berbagai pihak dengan perspektif yang berbeda, misalnya pengelolaan, pembinaan, pengurusan, ketatalaksanaan, kepemimpinan, pemimpin, ketata pengurusan, administrasi dan sebagainya. Jadi manajemen dalam hal ini diartikan sebagai suatu kegiatan pengadministrasian, ketatalaksanaan, kepemimpinan, dan pengurusan (Siswanto, 2006:1).
Perkembangan ilmu manajemen yang pesat sesuai dengan akumulasi dan perkembangan jaman, memunculkan pendapat yang beragam tentang fungsi manajemen. Salah satu pendapat adalah yang dikemukakan oleh Terry (2003:8) bahwa fungsi manajemen tersebut dikenal dengan singkatan POAC yaitu: (1) perencanaan (Planning), (2) pengorganisasian (Organizing), (3) penggerakan (Actuating), (4) pengawasan (Controlling).
Perencanaan merupakan dasar dari pelaksanaan kegiatan-kegiatan lainnya dalam suatu organisasi, sehingga perencanaan ditempatkan sebagai fungsi pertama. Perencanaan dapat disusun dengan mempertimbangkan hasil penelitian, observasi atau dengan argumentasi. Perencanaan merupakan penjabaran dari strategi awal organisasi. Untuk melaksanakan perencanaan dengan baik diperlukan adanya suatu organisasi yang cocok. Sehingga kemudian muncul fungsi yang kedua yaitu fungsi pengorganisasian. Dalam fungsi pengorganisasian perlu ditelaah tentang kegiatan yang dilakukan, hakekat organisasi, proses interaksi, prinsip organisasi dan tipe organisasi yang akan dijalankan.
Dengan terbentuknya suatu organisasi, dibutuhkan adanya usaha untuk menggerakkan organisasi tersebut. Dalam proses penggerakkan tersebut perlu dicermati pula proses intraksi antar manusia. Sehingga perlu adanya tatanan menyangkut manusia, pendekatan, potensi, perilaku serta segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas organisasi.
Setelah ketiga fungsi tersebut berjalan, yang terakhir muncul adalah perlu adanya suatu pengawasan terhadap jalannya proses-proses sebelumnya. Pada hakekatnya pengawasan mencakup penilaian  adanya kemajuan atau tidak, perlunya penyegaran atau tidak. Sehingga pengawasan harus mampu menjadi suatu upaya dalam meluruskan roda organisasi agar tidak terjadi penyimpangan dalam organisasi tersebut. Pengawasan juga dapat dijadikan sebagai langkah  pengawasan dan evaluasi aktivitas organisasi menyangkut proses perencanaan, pengorganisasian maupun tahapan pelurusan sesuai dengan visi dan misi yang diemban.
Manajemen menurut Parker Follet (1997), adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (management is the art of getting things done through people). Menurut Hasibuan (2001) manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Meskipun banyak definisi manajemen yang telah diungkapkan para ahli sesuai pandangan dan pendekatannya masing-masing, namun tidak satu pun yang mernuaskan. Walaupun demikian, esensi manajemen dapat dipandang, baik sebagai proses (fungsi) maupun sebagai tugas (task). Olehnya manajemen sebagaimana dikemukakan Nickels and McHugh dalam Sule dan Saefullah (2005), bahwa manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang­orang serta sumber daya organisasi lainnya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen pada dasarnya merupakan seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. Dalam penyelesaian akan sesuatu tersebut terdapat tiga faktor yang terl i bat; (1) Adanya penggunaan sumberdaya organisasi, baik sumberdaya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Atau menurut Griffin (2002), sumber daya tersebut meliputi sumberdaya manusia, sumberdayaalam, sumberdaya keuangan, serta informasi, (2) Adanya proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan, (3) Adanya seni dalam menyelesaian pekerjan.
2. Arti Pendidikan
Seperti halnya manajemen, pengertian pendidikan pun sejauh ini belum ada keseragaman formulasi yang dapat dipakai sebagai pegangan karena masing-masingahli mengemukakan pengertian yangagak berbeda satu dengan yang lainnya, tergantung dari konsepsi pendekatannya masingmasing.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk membentuk generasi penerus bangsa, pendidikan dilakukan saat hayat masih dikandung badan dan pendidikan sangat penting bagi kehidupan kita sebagai makhluk sosial yang diberi kemampuan oleh Allah SWT berupa akal pikiran untuk berpikir dan menerima pelajaran. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pendidikan hendaknya pendidik dapat mengetahui apa saja kesulitan dari tiap-tiap aspek materi yang akan diberikan sehingga dapat segera diketahui bagaimana cara menanggulangi.
Pendidikan ada sejak pertama manusia mengenal komunikasi, sebab pendidikan tak mungkin bisa dilakukan tanpa adanya komunikasi, baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Hal ini bisa dipahami sebab sejak semula, pendidikan beriringan dengan kepercayaan. Kepercayaan terhadap sifat-sifat hakiki kemanusiaan sendiri, dan kepercayaan terhadap ada atau tidak adanya daya ruhaniah yang lebih besar dibanding kekuatan manusia, yang memayungi jagat seisinya.  Kepercayaan atas sebuah kebenaran yang disampaikan ke orang lain inilah yang melahirkan adanya pendidikan.
             Pendidikan pada masa Sophistic di Yunani dilakukan oleh para guru yang selalu berkeliling mengajar ditempat-tempat umum yang dipanggil dengan nama Sofis. Dalam bahasa Yunani ada kata sophisma yang berarti akal cerdik, ketrampilan berargumen dengan konotasi licik yang dipakai di dalam perdebatan atau pengajaran dengan satu tujuan yaitu agar keluar sebagai seorang pemenang. Kaum Sofis ini berpendapat bahwa pendidikan yang diperlukan adalah retorika, tata bahasa, logika, hukum, matematika, sastra, dan politik yang di dalam prakteknya kaum Sofis ini terjebak ke dalam permainan lambang dan simbol semata dalam bentuk permainan kata, ber-silat-lidah, menyusun argumentasi yang bersifat manipulatif melalui pemutar-balikan fakta, memanipulasi lambang dan makna yang disampaikan pada para pendengarnya, yang menurut Yasraf A. Piliang mereka terjebak di dalam dunia citra (image), dunia lambang yang berbeda dari realitas yang ada, berbeda dari kebenaran itu sendiri. Sehingga kebebasan yang diharapkan ada di dalam proses pendidikan secara tidak langsung sudah mengalami apa yang disebut oleh Pierre Bourdieu sebagai kekerasan simbolik yaitu kekerasan yang halus dan tak tampak, baik dari sisi struktrur bahasa maupun ditingkat semantik yang mengakibatkan di dalam proses pendidikan kaum Sofis yang ada sebenarnya adalah kebebasan semu.
             Socrates menganggap bahwa pendidikan yang tidak mengajarkan pada murid untuk mencari kebenaran atau mengajarkan kebenaran tidaklah termasuk pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Untuk mencapai kebenaran melalui  pendidikan itulah, Socrates menggunakan metoda dialektika yang membebaskan murid untuk berpikir sendiri tanpa terpengaruh oleh gagasan gurunya.
Ilmu pendidikan disebut pedagogik yang merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris yaitu "pedagogics". Pedagogics sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu "pais"yangartinya anak dan "again" yang artinya membimbing. Dari arti tersebutdapat dipahami bahwa pendidikan mengandung pengertian "bimbingan yang diberikan kepada anak". Orang yang memberikan bimbingan kepada anak disebut pembimbing atau "pedagog". Dalam perkembangannya, istilah pendidikan (pedagogy) berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan kepada anak oleh orang dewasa secara sadar dan bertanggung jawab, baik mengenai aspek jasmaniahnya maupun aspek rohaniahnya menuju ketingkat kedewasaan anak.
Ditinjau dari sudut hukum, definisi pendidikan berdasarkan Undang­Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sikdiknas, Pasal 1 ayat (1), yaitu "Pendidikan adalah usaha sadardan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dir kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".
3. Arti Manajemen Pendidikan
Pendidikan nasional haruslah dikelolah secara tepat agar tujuan dapat tercapai secara efisien dan efektif. Karena itu, untuk pengelolaan pendidikan diperlukan administrator yang dapat berkinerja secara maksimal guna meningkatkan kualitas IUlUsan yangdiharapkan oleh masyarakat.
Manajemen pendidikan oleh Knezevich (1984) diartikan sebagai sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektivitas pelayanan pendidikan, melalui perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepimimpinan, penyiapan alokasi sumber daya, koordinasi personil, penciptaan ikI im organisasi yang kondusif, serta penentuan pengembangan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakatdi masa depan. Tidak berbeda dengan pendapat di atas, Mulyasa (2004) mengartikan manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumberdaya pendidikan; tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, dana, sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana dan I ingkungan pendidikan untuk mencapai tujuan Yang ditetapkan.
Demikian pula Engkoswara (2001) berpendapat bahwa manajemen pendidikan dalam arti luas adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumberdaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang kondusif bagi manusia yang terlibat di dalam mencapai tujuan yang telah disepakati. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penataan mengandung makna mengatur, memimpin, mengelola suberdaya. Sedangkan sumberdaya terdiri dari sumberdaya manusia (peserta didik, pendidik, dan pemakai jasa kependidikan), sumber belajar dan kurikulum (segala sesuatu yang disediakan lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan), serta fasilitas (peralatan, barang, dan keuangan yang menunjang kemungkinan terjadinya pendidikan). Tujuan pendidikan dapattercapai dilihat dari indikator efektivitas dan efisiensi.
4. Arti Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Apakah sebenarnya pendidikan jasmani dan olahraga? Secara umum pendidikan jasmani dan olahraga dapat didefinisikan sebagai berikut. Pendidikan jasmani dan olahraga (Penjasor) adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Dari pengertian im, mengukuhkan bahwa Pendidikan jasmani dan olaraga merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Menurut Husdarta (2009), bahwa pencapaian tujuan tersebut berpangkal pada perencanaan pengalaman gerak yang sesuai dengan karakteristik anak.
Di berbagai negara, pendidikan jasmani dibentuk kembali setelah tahun 1900, khususnya tahun 1920‑an. Perkembangan ini didukung kuat oleh dokter olahraga yang dikenal di tingkat internasional yaitu Sargent (1906) di Amerika Serikat, dan Schmidt (1912) di Jerman. Kedua tokoh itu menganjurkan tipe latihan senam dan metode pengajaran yang tekanannya pada pembentukan (forming) fisik. Metoda alamiah menjadi populer di Denmark dan Swedia yang dipromosi oleh Torngren (1914), Knudsen (1915) dan Bukh (1923). Usaha mereka mendorong terjadinya reorganisasi pendidikan jasmani di negara‑negara Eropa. Di Perancis, metode alamiah (la methode naturelle) dikembangkan oleh Demeny dan Herbert, dan di Amerika Serikat, di kenal Thomas D. Wood dengan pembaharuan dalam senam, dan di Jerman, Erich Harte menjadi pendukung kuat aliran Austria “Gaulhofer dan Streicher” (1922) yang keduanya dipengarubi oleh senam Denmark dan Swedia. Tulisan dan hasil kuliah Gaulhofer dan Streicher membantu pelaksanaan reformasi pendidikan jasmani di Jerman, Belanda, Inggris, dan negara Eropa lainnya pada tahun 1920‑an dan 1930‑an (Grossing. 1991; Kramer membantu Lommen, 1987; McIntosh, 1968; dalam Naul. 1994).
Pada masa itu didirikan lembaga pendidikan tenaga guru bertaraf universitas dan diperkenalkan ke dalam dunia akademik yang tumbuh di beberapa negara di Eropa. Namun sekarang, di beberapa negara Eropa itu, masih terdapat perbedaan status akademik pendidikan jasmani dan pendidikan tenaga guru.
Pada tahun 1960‑an terjadi perubahan di beberapa negara. Kebugaran jasmani dianggap sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan jasmani baik di Barat maupun di Timur, semacam kebangkitan kembali aliran Swedia yang menekankan kebugaran jasmani sebagai tujuan utama, manusia sebagai “mesin” yang harus dibina agar berfungsi dengan baik, sementara landasan ilmiahnya adalah biologi (lihat, Crum, 1994). Aspek performa menjadi bagian yang lebih penting karena berbagai alasan. Pada tahun 1970‑an, kebijakan pendidikan jasmani banyak diperbaharui oleh kebijakan negara bagian seperti di Negara negara Eropa.
Tahun 1970‑an merupakan puncak perkembangan pendidik ail jasmani dengan peningkatan yang amat dramatis, ditandai dengan perbaikan dalam fasilitas, peningkatan kualifikasi tenaga guru, dan pengalokasian jam pelajaran 3 jam per minggu, di samping pendidikan jasmani harian di SD, sementara di pendidikan tinggi diperkenalkan dari diorganisasi program pemeliharaan kesehatan.
Namun sejak tahun 1980‑an terjadi kemunduran pendidikan jasmani pada tingkat global karena pengaruh ekonomi, politik, dan perubahan pada pendidikan itu sendiri. Krisis pendidikan jasmani, seperti yang dimunculkan dalam kongres dunia di Berlin tahun 1999 1 terjadi tidak hanya pada tingkat nasional suatu negara seperti di AS, Australia, Inggris dan Jerman, namun menjadi persoalan akut di bekas negara blok sosialis (Foldesi, 1993; dalam Naul, 1994). Bahkan dalam paparan Ken Hardman pada konferensi internasional di Bangkok diungkapkan yakni tidak banyak perubahan atau kemajuan yang dicapai sebagai implementasi dari Deklarasi Berlin. Konferensi internasional bertema Sport and Education di Bangkok (2005) kembali mengetengahkan isu keterlaksanaan pendidikan jasmani, seperti dipaparkan oleh Ken Hardman, sampai pada kesimpulan yakni tidak banyak perubahan yang dicapai pada tataran praksis. Lahirnya Bangkok Agenda, sebagai “gong” dari konferensi bertujuan untuk mengakselerasi perubahan untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan jasmani, yang juga untuk tujuan yaitu peningkatan mutu pendidikan.
Rangkaian pembahasan tentang pemberdayaan pendidikan jasmani ini berlanjut dalam kongres internasional ke‑46 ICHPERSD (International Council on Health, Physical Education, Recreation, Sport ‑.md Dance) di Istambul (2006) yang menghasilkan pemikiran tentang visi dan misi baru peindidikan iasmani, termasuk komponen‑komponen pendidikan jasmani yang dipandang bermutu.
Secara umum pendidikan jasmani dan olahraga dapat didefinisikan sebagai berikut; pendidikan jasmani dan olahraga adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan (Agus Mahendra, 2004). Definisi tersebut, sekali lagi mengukuhkan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian yang tak dapatdipisahkan dari tujuan pendidikan umum.
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.
Dengan demikian pendidikan jasmani dan olahraga dapat diartikan suatu kegiatan mendidik anak dengan proses pendidikan melalui pembelajaran aktivitas jasmani dan olahraga baik itu dilakukan secara  individu maupun kelompok. Perbedaan pendidikan jasmani dan olahraga dengan masa pelajaran lainnya adalah alas yang digunakan adalah gerak insani, manusia yang bergerak secara sadar. Gerak itu dirancang secara sadar oleh gurunya dan diberikan dalam situasi yangtepat, agar dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
5. Arti Manajemen Pendidikan Jasmani dan olahraga
Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Atau dengan kata lain manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan Yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Manajemen pendidikan dapat pulaj diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengaraha6, dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif, efisien, mandiri, dan akuntabel (Husaini Usman, 2008).
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan jasmani dan olahraga pada dasarnya merupakan seni atau proses dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian/pengawasan sumber daya pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahragayangterpilih untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
C. Makna Pendidikan Jasmani dan olahraga
1. Kedudukan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Kondisi bangsa kita sekarang sedang dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi, ditandai dengan mahalnya kebutuhan bahan pokok, tetapi tidak dibarengi dengan pendapatan yang seimbang, hingga kini masih membekaskan Iuka yang dalam bagi sebagian besar masyarakat kita. Hal tersebut lebih terasa dan pedih bagi bangsa kita, ditengah kondisi dunia Yang sedang dihadapkan pada krisis perebutan kekuasaan politik dunia, dengan nuansa kental perebutan kekuasaan ekonomi dan teknologi di sebagian besardunia maju dan imbasnya kena bangsa kita.
Menurut Husdarta (2009) kemampuan ekonomi bangsa Indoensia telah terlempar pada keadaan tak terkendali, menghasilkan persoalan­persoalan seperti pemangkasan anggaran, harga barang yang membubung, kesulitan dan konflik penduduk kota, rangkaian pengangguran, hingga deficit pemernitah yang semakin menggunung. jika negara maju lainnya sudah mengambil langkah-langkah pasti terhadap persoalan global yang menantang tersebut, Indonesia tetap berada dalam kondisi lesu.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah mencapai tahap sangat maju telah Pula menghadapkan bangsa kita, terutama Para anak-anak dan remaja, pada gaga hidup yang semakin menjauh dari semangat perkembangan total, karena lebih mengutamakan keunggulan kecerdasan intelektual, sambil mengorbankan kepentingan keunggulan fisik (physical conditioning) dan moral individu. Budaya hidUp mudah/gampang, sedenter (kurang gerak) karennya semakin kuat mengejala di kalangan anak­anak dan remaja, berkomunikasi dengan semakin hilangnya ruang-ruang publik dan tugas kehidupan yang memerlukan upaya fisik yang keras, segalanya menjadi mudah, sehingga lambat lawn kemampuan fisik manusia sudah tidak diperlukan lagi. Dikhawatirkan secara evolutif manusia akan berubah bentuk fisiknya, mengarah pada bentuk yang tidak bisa kita bayangkan karena banyak anggota tubuh kita dari mulai kaki dan lengan sudah dipandang tidak berfungsi (Husdarta, 2009).
Dalam kondisi demikian patutlah kita pertanyakan kembali peranan dan fungsi pendidikan, khususnya pendidikan jasmani dan olahraga, apakah peranan yang bisa dimainkan oleh program Penjasor dalam kondisi dunia dan bangsa yang semakin dihadapkan pada kuatnya potensi konflik tersebut? Apakah peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mempersiapkan Para pewaris bangsa ini untuk mampu bersaing secara sehat dalam persaingan global sekarang ini dan yang akan datang? Apa Pula peranan pendidikan jasmani dan olahraga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya evolusi kehidupan manusia yang cenderung tidak lagi memerlukan perangkat fisik yang utuh untuk menjalankan tugasnya sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, serta penawaran satu alternatif dalam memandang peranan dan fungsi pendidikan jasmani dan olahraga yang seharusnya dilaksanakan di sekolah-sekolah dasardan menengah di Indoensia lebih diseriusi dan ditingkatkan.
Pendidikan jasmani dan olahraga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik (jasmani) dan olahraga untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional. Penjasor memperlakukan anak sebagai sebuall kesatuan utuh, makhluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seorang yang terpisah kualitas fisik dan mental nya.
Fokus perhatian pendidikan jasmani dan olahraga adalah peningkatan gerak manusia, lebih khusus lagi pendidikan jasmani dan olahraga berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya, misalnya hubungan dan perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yangmenjadikannya unik.
Menurut Husdarta (2009) bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alai fisik untuk mengembangkan keutuhan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun tidak langsung. Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani dan olahraga tidak.hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata. Pengertian pendidikan jasmani tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani dan olahraga pada bidangyang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.
Pendidikan jasmani dan olahraga karena harus menyebabkan Perbaikan dalam pikiran dan tubuh yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan seharian seseorang. Pendekatan holistiktubuh-jiwa ini termasuk Pula penekanan pada ketiga domain kependidikan, yakni; psikor-notor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, pendidikan jasmani dilstilahkan sebagai proses menciptakan "tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa". Artinya dalam tubuh yang baik diharapkan Pula terdapatjiwa yang what, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno, "men sang in corporesano".
Salah satu pertanyaan sul it di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualism, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior. pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno dengan konsepnya "jiwa yang baik di dalam raga yang baik". Motto tersebut seri ng d i pern mbangkan, sebagai pertanyaan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional yaitu; aktivitasfisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh yaitu jiwa, raga dan spirit. Tepatlah ungkapan dari Zigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri.
Dalam masyarakat konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme tersebut masikkuat berlaku, bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru pendidikan jasmani dan olahraga sendiri. Barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah pendidikan jasmani dan olahraga itu sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Sudah pasti masih banyak guru pendidikan jasmani yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. justru lebih ironis di kita bahwa program pendidikan jasmani dan olahraga tidak ditekankan ke mana-mana. Hal ini pandangan yang lebih parch, yang memandang bahwa program pendidikan jasmani dan olahraga dipandang tidak penting sama sekali. Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan jasmani dan olahraga untuk mengembangkan manusia menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumberdari kenyataan pelaksanaan praktek pendidikan jasmani dan olahraga di lapangan. Teramat banyak kasus dimana orang menolak manfaatatau nilai positif dari pendidikan jasmani dan olahraga dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani dan olahraga di lapangan seperti yangdapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percaya dan apa yang kita praktekkan atau kesenjangan antara teori dan praktek, adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga.
2. Gerak sebagai Unsur Pokok Pendidikan jasmani
Gerak merupakan perhatian pokok dari guru pendidikan jasmani dan olahraga. Tugasnya adalah membantu peserta didik bergerak secara efesien, meningkatkan kualitas unjuk-kerjanya (performance), kemampuan belajarnya dan kesehatannya. Karena gerak adalah unsure pokok pendidikan jasmani dan olahraga penting bagi guru pendidikan jasmani memahami beberapa dimensi.
Gerak benda secara luasdidefinisikan sebagai satu perubahan posisi dari benda dalam ruang. Gerak manusia adalah perubahan posisi dalam ruangatau terhadap bagian tubuh lainnya. Semua gerak itu tunduk pada asas mekanika tertentu. Satu pemahaman dari tenaga yang bekerja pada tubuh selagi bergerak adalah penting bila seseorang melakukan gerak yang bermakna.
Dalam pola gerak yang tersusun, dapat dikenal tiga komponen gerak, yaitu; gerak berkenaan dengan sikap tubuh, dengan transport (perpindahan tubuh ke tempat lain) dan dengan tangan. Anak berkembang dan belajar melalui tiga jalur tersebut. Komponen satu dan dua adalah pola gerak yang digunakan untLik melawan daya tarik bumf yang melibatkan otot-otot dan saraf. Otot-otot tersebut pada umumnya dipandang sebagai otot-otot fun­damental dan gerakannya dinamakan aktivitas otot-otot besar (Abdullah; Manadji, 1994).
Penyesuaian yang bersifat sikap tubuh (postural) merupaan dasar dari sernua gerak. Semua pola gerak transport dan tangan harus dimulai dari sikap tubuh. Dalam proses pertumbuhan a6ak'harus mulai belajar mengangkat kepalanya dan kemudian mengerjakan otot-ototnya untuk duduk. Setelah ia menguasai penyesuaian yang diperlukan untuk sikap tubuh, ia juga belajar pola gerak maju. Gerak postural-transport dimulai dengan melantai, yangdilakukan dengan tubuh bersentuhan dengan lantai. Tahap perkembangan berikutnya adalah merangkak, dengan tubuh tidak ada kontak dengan lantai, tangan dan lutut menopang berat badannya. Gerak maju yang dilakukan berpola-silang dengan tangan dan lutut yang berlawanan digerakkan silih berganti. Tahap berikut dari aktivitas postural-transport anak mencoba berdiri di atas dua kaki dan dilanjutkan dengan berjalan. Bila ia tidak menguasai aktivitas vitas pola-silang dari merangkak, mungkin la mendapat kesulitan dalam belajar berjalan.
Salah satu pola gerak khusus pertama yang harus dipelajari anak adalah koordinasi tangan-mata, tangan dan mata bekerja dalam satu gabungan. Hubungan antara mata dan tangan dalam satu pola gerak cukup rumitdan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyempurnakannya. Kemampuannya menginttegrasikan pola gerak seperti itu memberikan sumbangan yang besar untuk mempelajari gerak lain, seperti memukul bola kasti dan bola tenis dengan menggunakan alai khusus untuk memukulnya, yaitu reket.
Gerak khusus lain adalah menyepak bola memerlukan koordinasi antara kaki dan mata. Bila bola yang disepak terletak di atas lantai pola gerak yangdilakukan tidak serumit bila bola yangdIsepak berada di udara. Bola itu dapat dilambungkan sendiri atau dilambungkan oleh orang lain kea rah anak. Kemampuan menguasai gerak koordinasi antara kaki dan mata sampai sempurna memerlukan waktu yang lama, apalagi bila dituntut bola disepak ke sasaran tertentu.
Menurut Getman yang dikUtip Abdullah; Manadji, 2009) selagi anda belajar menggabungkan dan mengintegrasikan gerak mata dengan gerak tangan, ia membentLik dasar pengintegrasikan dari semua kombinasi lainnya yang mungkn dalam semua system perceptual tubuh. Hasil penelitian menyatakan bahwa pola gerak anak dalam bentuk koordinasi tangan-mata sangat teritegrasi dengan kemampuannya membedakan bunyi dan kemampuannya membentuk kata-kata.
Faktor unjuk kerja jasmani merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam olahraga. Pertama, faktor unsur unjuk kerja yang mendasar semua gerak, seperti kelincahan, kecepatan, kekuatan, daya tahan, keseimbangan, kelentukan dan lain-lain. Kedua faktoraktivitas universal, yaitu keterampilan fundamental seperti lari, lompat, lempar, panjat dan gantung. Dikatakan keterampilan universal karena keterampilan itu sama bagi semua unjuk­kerja dari semua orang dan daerah geografis atau kebangsaan apapun. Faktor ketiga adalah gerakan khusus yang bertingkat tinggi yang dikuasai dengan latihan dan pengalaman khusus dan berbeda dari orang ke orang. la mencakup aktivitas olahraga, tari dan senam. Individu memperoleh melalui latihan yang banyak, spesialisasi dan ia khas untuk tiap aktivitas khusus. Singer (1986) berpendapat bahwa keberhasilan dalam unjuk-kerja gerak dapat tergantung pada faktor-faktor pribadi berikut; (1) karakteristik jasmani, (2) kemampuan gerak, (3)rasa aman, (4)kemampuan perceptual, (5) kecerdasan dan emosi.
3. Gerak sebagai Kebutuhan Anak
Ungkapan Rachel Carson dalam Agus Mahendra (2004), bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang segar, bare, dan senantiasa indah, dipenuhi keajaiban dan keriaan. Adalah kemalangan bagi kebanyakan kita bahwa dunia yang cermelang itu terenggut muram dan bahkan hilang sebelum kita dewasa. lika saja aku boleh memohon, akan kuminta Tuhan mengabadikan keajaiban dunia anak-anak itu di sepanjanghidupku. Dunia anak-anak memang menakjubkan, mengandung aneka ragam pengalaman yang mencenangkan, dilengkapi berbagai kesempatan untuk memperoleh pembinaan. Bila guru masuk ke dalam dunia itu, ia dapat membantu anak­anak untuk mengembangkan pengetahuannya, mengasah kepekaan rasa hatinya serta memperkaya keterampilannya.
Ungkapan Carson tersebut sangat menyentuh dan mewakil i ungkapan tentang dunia anak-anak. Bermain adalah dunia anak, sambil bermain mereka belajar. Dalam hal belajar, anak-anak adalah ahlinya. Segala macam dipelajarinya, dari menggerakkan anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarnya. Bayangkan keceriaan yang didapatnya ketika ia menyadari bare saja menambah pengetahuan dan keterampilan. Belajar dan keceriaan merupakan dua hal penting dalam masa kanak-kanak. Hal ini termasuk upaya mempelajari tubuhnya sendiri dan berbagai kemungkinan geraknya. Gerakadalah rangsangan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Makin banyak ia bergerak, makin banyak pula hal yang ditemui dan dijelajahi, dan makin baik pula kualitas pertumbuhannya.
Perhatikan tiga kata kunci di atas; gerak, gembira, dan belajar. Anak­anak suka bergerak dan suka belajar. Perhatikan bagaimana anak-anak bermain di lapangan. Disana akan tampak, mereka 6e rgerak dengan keterlibatan yangtotal dan dipenuhi kegembiraan. Bagi anak, gerak semata­mata untuk kesenangan, bukan didorongoleh maksud dan tujuan tertentu. Gerak adalah kebutuhan mutlak anak-anak. Sayangnya ketika usia semakin meningkat, aktivitas anak-anak semakin berkurang. Ketika memasuki usia sekolah, ia belajar dengan cara yang berbeda. Mereka lebih banyak diminta duduk tenang untuk mendengarkan penjelasan guru tentang berbagai hal. Lingkungan belajar pun semakin sempit, dibatasi oleh empat sisi dinding kelas yang membelenggu. Karena dipaksa untuk diam dan mendengarkan orang lain berbicara, belajartidak lagi menarik bagi anak. Keceriaan mereka terampas dan hilangnya sebagian "keajaiban" dunia anak-anak mereka. Tidak heran bila anak merasa bahwa belajar ternyata kegiatan yang tidak menyenangkan.
Dalam memahami arti pendidikan jasmai dan olahraga, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain dan berolahraga. Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Bermain dapat diartikan sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fis k. Bermain bukanlah berarti olahraga serta pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya. Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif.
Beberapa ahli memandang bahwa olah raga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisir, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani dan olahraga. Akan tetapi pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
D. Tujuan Pendidikan jasmani dan Olahraga
Tahukah anda apa tujuan pendidikan jasmani dan olahraga? Mungkin anda berpendapat, tujuannya adalah hanya meningkatkan keterampilan siswa untuk berolahraga. Mungkin pula kawan anda yang lain mengatakan tujuannya adalah agar anak mencapai taraf kesehatan yang mernuaskan. Atau ada pula yang berpendapat, kegiatan itu untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Semuanya benar, namun pendapat itu kurang lengkap, sebab masih ada lagi tujuan lainnya yang tidak kalah pentingnya.
Pendidikan jasmani itu adalah wahana untuk mendidik anak. Para ahli sepakat bahwa pendidikan jasmani merupakan alat untuk membina anak muda agar kelak mereka mampu membuat keputusan terbaik tentang aktivitas jasmani yang dilakukan dan menjalani pola hidup sehat. Tujuan ini akan dicapai melalui penyediaan pengalaman langsung dan nyata berupa aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani itu dapat berupa permainan atau olahraga yang terpilih. Kegiatan itu pada dasarnya dimanfaatkan untuk mengembangkan kepribadian anak secara menyeluruh. Karena itu ada para ahli sepakat bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani.
Mengapa pendidikan jasmani dan olahraga diajarkan di sekolah? Kesalah pahaman memang telah terjadi. Orang awam berpendapat pendidikan jasmani lebih menekankan pembinaan keterampilan fisik, yang sebenarnya tentu tidak demikian. ldealnya adalah tujuan program pendidikan jasmani dan olahraga itu bersifat menyeluruh, sebab mencakup bukan hanya aspek fisik tetapi juga aspek lainnya agar seseorang percaya diri, berdisiplin, sehat, bugar dan hidup bahagia.
Tujuan pendidikan jasmani dan olahraga sudah tercakup dalam pemaparan di atas, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral. Singkatnya pendidikan jasmani dan olahraga bertuivan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya.
Misi pendidikan jasmani dan olahraga tercakup dalam tujuan pembelajarannya yang meliputi domain kognitif, psikomotor dan afektif. Perkembangan pengetahuan atau sifat-sifat sosial bukan sekedar dampak pengiring yang menyertai keterampilan gerak. Tujuan itu harus masuk dalam perencanaan dan skenario pembelajaran. Kedudukannya sama dengan tujuan pembelajaran pengembangan domain psikomotor.
Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan tersebut guru perlu membiasakan diri untuk mengajar anak tentang apa yang akan dipelaiari berdasarkan pemahaman tentang prinsip-prinsip yang mendasarinya. Pergaulan yang terjadi di dalam adegan yang bersifat mendidik itu dimanfaatkan secara sengaia untuk menumbuhkan berbagai kesadaran emosional dan sosial anak. Dengan demikian anak akan berkembang secara menyeluruh yang akan mendukung tercapainya aneka kemampuan.
Jadi pendidikan jasmani dan olahraga memberikan kesempatan kepada siswa untuk:
-     Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa untuk berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial.
-     Mengembangkan percaya diri dan kemampuan menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasi siswa dalam aneka aktivitasjasmani.
-     Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali.
-     Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara berkelompok maupun perorangan.
-     Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang.
-     Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan dan olahraga.
Berdasarkan beberapa alasan tersebut, mudah dipahami bahwa pendidikan jasmani dan olahraga mengandung potensi yang besar untuk memberikan sumbangan kepada pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Bila tujuan yang bersifat menyeluruh itu dapattercapai, hal itu memungkinkan anak untuk:
-     Memperoleh dan menerapkan pengetahuan tentang aktivitas jasmani, pertumbuhan dan perkembangan serta perkembangan estetika dan sosial.
-     Mengembangkan kemampuan intelektual, keterampilan gerak dan keterampilan manipulatif yang diperlukan untuk menguasai dan berpartisipasi secara aman dalam aktivitas jasmani.
-     Mengembangkan kapasitas untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menuju poly hidup sehat.
-     Mengembangkan sikap positif terhadap aktivitas jasmani yang menyumbang kepada kesejahteraan individu dan kelompok.
-     Mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang lain baik di dalam kelompok sebagai peserta mampu berkomunikasi antar kelompok.
-     Mengembangkan rasa keindahan berkenaan dengan peragaan keterampilan.
E. Kesimpulan
Manajemen pendidikan jasmani dan olahraga pada dasarnya merupakan seni atau proses dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian/pengawasan sumber daya pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilili untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pendidikan jasmani dan olahraga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik (jasmani) dan olahraga untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional. Penjasor memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Tujuan pendidikan jasmani dan olahraga sudah tercakup dalam pernaparan di atas, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral. Singkatnya pendidikan jasmani dan olahraga bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya, secara sederhana tujuan pendidikan jasmani dan olahraga meliputi tiga ranch atau domain yakni kogntif, psikomotor, dan afektif sebagai satu kesatuan.
Tujuan di atas merupakan pedoman bagi guru pendidikan jasmani dan olahraga dalam melaksanaan tugasnya. Tujuan tersebut harus bisa dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang direncanakan secara matang, dengan berpedoman pada ilmu mendidik. Dengan demikian, hal terpenting untuk disadari oleh guru pendidikan jasmani dan olahraga adalah bahwa ia harus menganggap dirinya sendiri sebagai pendidik, bukan hanya sebagai pelatih atau pengatur kegiatan.

Daftar Pustaka
Abdullah Arma; Agus Manadji. Dasar-Dasar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi, Depdikbud, 1994.
Ahmadi Abu. Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999. Anonymous. UU RI No. 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007.
Ateng, H.A. Azas dan Landasan Pendidian Jasmani. Jakarta: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti, 1993.
Barrow, H.M. Man and Movement, Principles of Physical Education (2n'ed). Philadelphia; New York: David Mckay Co.,Inc, 1977.
Bernadin, John H, Joice A, Russel. Applied Psychology in Human Resources Management. United of America: Prentince Hall, 1988.
Depdiknas. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dekdiknas, 1997. Engkoswara. Paradigms Manajemen Pendidikan, Menyonsong Otonomi Daerah. Bandung: Yayasan Amal Keluarga.
Enoch, J. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2000. Fattah, N. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Flippo, Edwin B. Personnel Managament, Sixth Edition. New York: Mc. Grave-Hill Book Company, 1984.
Gie, The Liang. Unsur-Unsur Administrasi. Yogyakarta: Penerbit Supersukses, 1993.
Gilbert, D.R & R.E Freeman, Stoner J. Management. New Jersey: Person Printice Hall, 1995.
Griffin Ricky W. Management. Boston: Houghton, Fiffin, 19987.
Hasibuan, Malayu S.P. Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
………………… Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Hoy, W             K & Miskel, C.G. Education Administration. (3111 Ed). New York:
Random House, 1987.
Husdarta, H.J.S. Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung: Alfabeta, 2009.
Mahendra Agus. Azas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas, Dirjen Pendidikan Dasar & Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan, 2004.
Prof. DR. Achmad paturusi, M.Kes . 2012. Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Jakarta: Rineka Cipta


1 komentar: